
Keputusan Pramac Racing meninggalkan Ducati dan beralih ke Yamaha mulai musim 2025 kini mulai menuai pertanyaan tajam. Apalagi setelah performa tim di MotoGP Thailand 2026 benar-benar jauh dari harapan. Dua pembalap utama, Jack Miller dan Toprak Razgatlioglu, hanya mampu finis di posisi 17 dan 18. Hasil itu jelas bukan gambaran dari ambisi besar yang dibawa Pramac saat memutuskan peralihan motor.
Dua musim lalu, Pramac mencatat sejarah manis dengan merebut gelar juara dunia bersama Jorge Martin menggunakan Ducati Desmosedici. Mereka menjadi tim satelit pertama yang berhasil menjuarai MotoGP di era modern. Namun, sejak kepergian Martin dan perpindahan ke Yamaha, tren positif itu langsung buyar. Performa motor dan hasil di lintasan justru makin menurun.
Performa Buruk di MotoGP Thailand 2026
Hasil di sirkuit Buriram memperjelas bahwa Yamaha YZR-M1 versi terbaru belum mampu memberikan keunggulan yang diharapkan. Dengan mesin V4 yang dikembangkan untuk mengejar ketertinggalan dari rival-rivalnya, Yamaha memasang harapan besar pada Pramac sebagai tim pengembang utama. Sayangnya, realita di lapangan justru sebaliknya.
1. Jack Miller Tertinggal Jauh
Jack Miller, yang diharapkan menjadi andalan utama, hanya finis di posisi 17. Ia tertinggal hingga 47 detik dari pemenang balapan. Performa ini jauh dari ekspektasi, terlebih jika dibandingkan dengan performa Ducati yang digunakan Miller di musim-musim sebelumnya.
2. Debut Toprak Razgatlioglu Tanpa Cahaya
Toprak Razgatlioglu, yang debut di MotoGP musim ini, juga belum menunjukkan tanda-tanda bisa bersaing. Finis di posisi 18 menunjukkan bahwa ia masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri, terutama dengan motor yang belum stabil secara performa.
Tren Penurunan Sejak 2025
Performa buruk di Thailand 2026 bukanlah kejutan mendadak. Sejak musim lalu, Pramac sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kesulitan. Dengan Jack Miller dan Miguel Oliveira sebagai pembalap utama, tim hanya mampu mengumpulkan 125 poin sepanjang musim. Hasil itu membuat mereka finis di posisi paling bawah di klasemen tim.
Tabel berikut menunjukkan perbandingan performa Pramac saat menggunakan Ducati (2024) dan Yamaha (2025-2026):
| Musim | Motor | Poin Total | Posisi Klasemen Tim |
|---|---|---|---|
| 2024 | Ducati | 421 | Juara 1 |
| 2025 | Yamaha | 125 | Terakhir |
| 2026 (sementara) | Yamaha | 0 | – |
Mesin V4 Yamaha: Investasi Jangka Panjang atau Kegagalan Awal?
Yamaha memperkenalkan mesin V4 sebagai langkah strategis untuk menutup jarak dengan para rivalnya. Harapannya, dengan dukungan tim satelit seperti Pramac, pengembangan bisa berjalan lebih cepat. Namun, dua musim sejak peluncuran, belum ada tanda-tanda bahwa motor ini bisa bersaing di level terdepan.
1. Data Tes Pramusim Menunjukkan Keterbatasan
Simulasi dan tes pramusim 2026 menunjukkan bahwa Yamaha masih tertinggal dalam hal kecepatan top dan konsistensi mesin sepanjang balapan. Meskipun ada peningkatan kecil, gap dengan Ducati, Aprilia, dan KTM masih terlalu lebar.
2. Kurangnya Kecepatan Murni
Salah satu masalah utama yang dihadapi Pramac adalah kurangnya kecepatan murni. Di trek cepat seperti Buriram, kelemahan ini sangat terlihat. Motor Yamaha belum mampu mempertahankan ritme tinggi selama balapan penuh.
3. Konsistensi Mesin Jadi Sorotan
Selain kecepatan, konsistensi mesin juga masih jadi PR besar. Pembalap sering mengeluh soal performa mesin yang turun drastis di paruh kedua balapan. Ini jadi salah satu penyebab gagalnya strategi Yamaha di lapangan.
Tekanan dari Dalam dan Luar
Keputusan Pramac untuk meninggalkan Ducati bukan hanya dipertanyakan oleh penggemar. Di dalam tim dan Yamaha sendiri, mulai muncul keraguan. Apalagi melihat performa Ducati yang tetap kompetitif di tangan tim-tim lain.
1. Ekspektasi Tinggi dari Quartararo
Fabio Quartararo, sebagai pembalap utama Yamaha, sempat menyampaikan optimisme terhadap kolaborasi dengan Pramac. Ia berharap tim satelit bisa menjadi ujung tombak pengembangan motor. Namun, hasil di lapangan belum memenuhi harapan tersebut.
2. Kontras dengan Performa Ducati
Sementara itu, Ducati terus tampil konsisten. Di tangan tim-tim pabrikan maupun satelit lainnya, motor Desmosedici masih menjadi salah satu yang paling cepat dan stabil. Ini menciptakan kontras yang sangat tajam dengan kondisi Pramac saat ini.
Strategi Jangka Panjang atau Langkah Terburu-buru?
Keputusan Pramac untuk pindah ke Yamaha disebut sebagai bagian dari proyek jangka panjang. Namun, di dunia MotoGP yang kompetitif, waktu bukanlah sahabat. Jika tren negatif terus berlanjut, tekanan terhadap manajemen tim dan Yamaha akan semakin besar.
1. Evaluasi Internal yang Mendesak
Dengan hasil yang terus mengecewakan, Pramac dipastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh. Mulai dari strategi balapan, pengembangan motor, hingga pilihan pembalap, semuanya bakal jadi bahan kajian ulang.
2. Potensi Kembali ke Ducati?
Belum ada pernyataan resmi, tapi kabar yang beredar menyebutkan bahwa Pramac mulai mempertimbangkan kembali hubungan dengan Ducati. Apalagi jika Yamaha gagal menunjukkan perkembangan signifikan di paruh musim.
Apa Kata Pengamat?
Banyak pengamat MotoGP yang memandang skeptis terhadap keputusan Pramac. Dari juara dunia menjadi tim paling bawah dalam dua musim, perubahan yang terlalu drastis justru berdampak negatif. Terlebih tanpa jaminan bahwa Yamaha bisa segera kembali ke level terdepan.
1. Risiko Tinggi, Imbal Hasil Rendah
Langkah besar seringkali membawa risiko tinggi. Dalam kasus ini, Pramac mengambil risiko besar dengan meninggalkan motor yang sudah terbukti sukses. Sayangnya, imbal hasil yang didapat justru semakin mengecil.
2. Kebutuhan Stabilitas
Di dunia MotoGP, stabilitas dan konsistensi jauh lebih penting daripada ambisi semata. Pramac mungkin terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan, tanpa mempertimbangkan dampak jangka pendeknya.
Kesimpulan: Jalan yang Harus Ditempuh
Musim 2026 masih panjang, tapi awal yang buruk membuat tekanan terhadap Pramac dan Yamaha semakin besar. Keputusan meninggalkan Ducati kini benar-benar dipertanyakan. Jika tren negatif terus berlanjut, bisa jadi langkah balik ke motor lama justru menjadi solusi terbaik.
1. Fokus pada Pengembangan Mesin
Yamaha harus segera menemukan solusi atas kelemahan mesin V4. Pengembangan harus dilakukan secara agresif agar bisa mengejar ketertinggalan dari rival-rivalnya.
2. Evaluasi Pembalap
Jack Miller dan Toprak Razgatlioglu mungkin butuh waktu, tapi hasil yang terus mengecewakan menunjukkan bahwa evaluasi terhadap performa mereka juga penting. Apakah mereka cocok dengan motor Yamaha atau tidak, harus segera dipastikan.
3. Pertimbangan Kembali Hubungan dengan Ducati
Jika Yamaha gagal menunjukkan perkembangan dalam beberapa seri ke depan, langkah Pramac untuk kembali ke Ducati bisa menjadi pilihan yang masuk akal.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini didasarkan pada hasil balapan MotoGP Thailand 2026 dan perkembangan terkini di paddock MotoGP. Data dan situasi bisa berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan teknis dan keputusan tim.





