Ketika akan berinvestasi saham, tentu Anda perlu memahami menghitung nilai atau valuasi perusahaan secara akurat. Dua indikator penting yang sering digunakan adalah Price Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV). Kedua rasio ini dapat memberikan gambaran apakah harga saham perusahaan dinilai wajar atau tidak.

Simak penjelasan lengkap dari desaglawan.id berikut ini untuk mempelajari cara PER dan PBV yang akurat. Kami juga akan memberikan contoh perhitungan dan investasi lengkap untuk pemula.

Ringkasan Cepat: Valuasi saham dengan PER dihitung dengan membagi harga saham dengan laba per saham. Sementara valuasi PBV dihitung dengan membagi harga saham dengan nilai buku per saham. Kedua rasio ini dapat digunakan untuk menilai apakah suatu saham dinilai mahal atau murah.

Apa Itu PER dan PBV dalam Investasi Saham?

PER (Price Earning Ratio) adalah salah satu rasio penting yang digunakan untuk menilai apakah harga saham sebuah perusahaan terlalu tinggi atau wajar. PER dihitung dengan membandingkan harga saham dengan laba per saham (Earnings Per Share/EPS).

Sementara itu, PBV (Price to Book Value) adalah rasio yang membandingkan harga saham dengan nilai buku per saham (Book Value Per Share). Ini digunakan untuk mengukur apakah harga saham sudah mencerminkan nilai aset perusahaan yang sebenarnya.

Kedua rasio valuasi ini dapat memberikan gambaran apakah suatu saham dinilai mahal atau murah. Semakin rendah nilai PER dan PBV, semakin murah suatu saham. Sebaliknya, semakin tinggi nilai PER dan PBV, maka saham tersebut dinilai semakin mahal.

Baca Juga:  12 Aplikasi Fintech Investasi Terbaik 2026 Resmi OJK dan Ramah Pemula

Cara Menghitung Valuasi Saham Menggunakan PER

Untuk menghitung PER, rumus yang digunakan adalah:

PER = Harga Saham / Laba Per Saham (EPS)

Contoh:
Misalkan saham PT ABC dijual di harga Rp5.000 per lembar, sementara laba per sahamnya (EPS) adalah Rp500. Maka nilai PER saham PT ABC adalah:
PER = Rp5.000 / Rp500 = 10x

Nilai PER 10x menunjukkan bahwa harga saham PT ABC 10 lipat dari laba per sahamnya. Semakin rendah nilai PER, semakin murah harga saham tersebut. Sebaliknya, semakin tinggi nilai PER, semakin mahal harga sahamnya.

Umumnya, saham dengan PER di bawah 15x dianggap masih murah. Sedangkan saham dengan PER di atas 20x dianggap sudah mahal. Nilai PER yang ideal untuk investasi jangka panjang biasanya berada di kisaran 10-15x.

Cara Menghitung Valuasi Saham Menggunakan PBV

Untuk menghitung PBV, rumus yang digunakan adalah:

PBV = Harga Saham / Nilai Buku Per Saham

Contoh:
Misalkan saham PT XYZ dijual di harga Rp10.000 per lembar, sementara nilai buku per sahamnya (Book Value Per Share) adalah Rp5.000. Maka nilai PBV saham PT XYZ adalah:
PBV = Rp10.000 / Rp5.000 = 2x

Nilai PBV 2x menunjukkan bahwa harga saham PT XYZ 2 kali lipat dari nilai bukunya. Semakin rendah nilai PBV, semakin murah harga saham tersebut. Sebaliknya, semakin tinggi nilai PBV, semakin mahal harga sahamnya.

Umumnya, saham dengan PBV di bawah 1x dianggap sangat murah. Sedangkan saham dengan PBV di atas 3x dianggap sudah mahal. Nilai PBV yang ideal untuk investasi jangka panjang biasanya berada di kisaran 1-2x.

Studi Kasus: Simulasi Perhitungan PER dan PBV

Misalkan Anda ingin membeli saham PT Adi Karya Makmur dengan harga Rp10.000 per lembar. Berdasarkan laporan terbaru, diketahui laba per saham (EPS) adalah Rp800 dan nilai buku per saham (BVPS) adalah Rp5.000.

Baca Juga:  5 Investasi Jangka Pendek yang Cocok untuk Pemula 2026 Modal Kecil Cuan Besar

Maka, perhitungan PER dan PBV-nya adalah:
PER = Rp10.000 / Rp800 = 12,5x
PBV = Rp10.000 / Rp5.000 = 2x

Dengan PER 12,5x dan PBV 2x, saham PT Adi Karya Makmur terlihat masih wajar dan belum terlalu mahal. Nilai PER di bawah 15x dan PBV di bawah 3x masih dianggap menarik untuk investasi jangka panjang.

Kendala Umum dalam Menghitung PER dan PBV

Meski PER dan PBV merupakan indikator valuasi yang penting, namun ada beberapa kendala yang perlu diperhatikan, yaitu:

  1. Fluktuasi Laba Perusahaan: Laba perusahaan bisa berfluktuasi dari tahun ke tahun, sehingga perhitungan PER bisa berubah-ubah. Perlu menggunakan rata-rata laba beberapa tahun terakhir.
  2. Perbedaan Industri: Nilai PER dan PBV yang ideal berbeda-beda untuk tiap sektor/industri. Misalnya, sektor umumnya memiliki PER lebih tinggi daripada sektor manufaktur.
  3. Valuasi Aset Perusahaan: Perhitungan PBV tergantung pada nilai buku perusahaan yang bisa berbeda dengan nilai pasarnya. Perlu membandingkan dengan perusahaan sejenis.
  4. Leverage Perusahaan: Perusahaan dengan utang tinggi cenderung memiliki PBV rendah. Perlu mempertimbangkan struktur modalnya.
  5. Faktor Lain: Selain PER dan PBV, ada banyak faktor lain yang perlu dipertimbangkan seperti prospek pertumbuhan, manajemen, dan dividen.

Oleh karena itu, dalam menghitung valuasi saham, penting untuk tidak hanya fokus pada PER dan PBV saja. Perlu mengombinasikan dengan analisis fundamental lainnya untuk mendapatkan keputusan investasi yang lebih baik.

FAQ Lengkap Tentang Valuasi Saham

  1. Apa perbedaan utama antara PER dan PBV?
    PER (Price Earning Ratio) membandingkan harga saham dengan laba per saham (EPS), sedangkan PBV (Price to Book Value) membandingkan harga saham dengan nilai buku per saham (BVPS). PER menilai apakah harga saham wajar berdasarkan laba, sementara PBV berdasarkan nilai aset perusahaan.
  2. Apa yang dianggap nilai PER dan PBV yang wajar?
    Secara umum, PER di bawah 15x dan PBV di bawah 3x dianggap wajar dan menarik untuk investasi jangka panjang. Namun, nilai ideal bisa berbeda-beda tergantung sektor industrinya.
  3. Bagaimana cara memilih saham dengan valuasi terbaik?
    Selain melihat PER dan PBV, Anda juga perlu mempertimbangkan faktor lain seperti prospek , manajemen perusahaan, sektor industri, dividen, dan laba pertumbuhan. Jangan terpaku hanya pada satu indikator saja.
  4. Apakah valuasi saham hanya berfungsi untuk saham?
    Tidak, konsep PER dan PBV juga bisa diterapkan untuk menilai valuasi aset lain seperti properti, , cryptocurrency, dan lainnya. Namun, cara perhitungannya akan berbeda menyesuaikan jenis asetnya.
  5. Bagaimana cara menghitung valuasi saham jika perusahaan sedang rugi?
    Jika suatu perusahaan sedang mencatat rugi, maka nilai EPS-nya akan negatif. Dalam kondisi seperti ini, perhitungan PER tidak bisa digunakan. Anda bisa lebih fokus pada perhitungan PBV untuk menilai valuasi sahamnya.
  6. Apakah valuasi saham satu-satunya pertimbangan dalam berinvestasi?
    Tidak, valuasi saham hanyalah salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan. Masih banyak faktor lain yang penting seperti fundamental bisnis, prospek pertumbuhan, dividen, likuiditas, dan lain-lain. Valuasi saham hanya memberikan gambaran awal tentang harga wajar.
  7. Apa manfaat menghitung valuasi saham secara rutin?
    Dengan menghitung valuasi saham secara rutin, Anda bisa memantau apakah harga saham yang Anda miliki masih wajar atau sudah terlalu mahal. Ini bisa membantu Anda dalam memutuskan kapan waktu yang tepat untuk membeli, menjual, atau mempertahankan saham.
Baca Juga:  Aplikasi Trading Saham Terbaik untuk Pemula 2026 yang Aman dan Legal OJK

Disclaimer: ini hanya untuk informasi, bukan saran finansial profesional. desaglawan.id tidak bekerja sama dengan /instansi terkait.

Nah, itulah panduan lengkap cara menghitung valuasi saham menggunakan PER dan PBV. Semoga informasi ini bisa membantu Anda dalam memulai investasi saham dengan lebih cerdas dan terkontrol. Jangan lupa untuk selalu menganalisis berbagai faktor lainnya sebelum membuat keputusan investasi. Selamat berinvestasi!